Rabu, 10 Desember 2014

The First Time We Met

"Hey, can I meet you personally after lunch time?"

Ahh, sudah ku bilang berkali-kali jangan datang ke cubicle ku. Ini bukan karena aku menolakmu ya. Tapi kita gak akan pernah tau apa yang akan mereka gosipkan setelah melihatmu datang ke cubicle ku. Bukan karena aku, tapi reputasi mu disini, sayang.

Yeah, 6.45pm, ini kedua kalinya kau tepat waktu menjemputku dimeja untuk pergi mencari tempat "personal meet-up" tersebut. Aku menikmati obrolan kita saat menuju coffee shop digedung sebelah. Aku rasa satu gelas plastik kopi akan sedikit mencairkan suasana canggung yang biasanya terjadi ketika aku kehabisan bahan obrolan.

Gak salahkan kalau kita memilih meja panjang berisi enam kursi dipojok coffee shop? Hanya untuk dua orang. Ice Latte & Hot Dolce Latte bisa jadi alasan kita untuk menghindari tatapan mata canggung. Yaa, pura-pura minum.

Masih hangat rasanya saat beberapa malam lalu kita memutuskan menghindari kemacetan bodoh itu dengan berjalan kaki menuju tempat mall elite tujuan mu. Bukan maksudku sengaja membuat supirmu menembus kejamnya macet ini sendirian ya, tapi karena kau hanya ingin film jam 7.50 itu. Dan sebenarnya aku juga tak berharap kau akan setuju dengan berjalan kaki menuju mall itu. Kota ini sunggu tidak pedesterian friendly. Dan kalau-kalau ada yang melihat kita berjalan melewati bawah jembatan layang yang gelap itu, mereka jelas akan berfikir aku menculikmu! Lupakan tentang tidak pedesterian friendly dan terowongan gelap, aku senang sepanjang jalan aku tidak kehabisan bahan obrolan dan kau tertawa. kilau sorot lampu mobil dan motor saat macet mendukung "Good Time" jalan kaki itu. Agak bodoh memang karena aku terjatuh dibawah jembatan karena tatanan taman yang tidak rapi. Celana yang sedikit kotor karena bekas jatuh, asap polusi yang membuat "sedikit" bau baju ku, dan keringat yang membuat eyeliner ku luntur sukses membuat ku mengulang kata-kata "We have to go to toilet, I must be looks awful!", dan kau hanya bilang "No,no,no, you looks OK". Tapi karena kau, aku tak perduli dengan toilet lagi. Tujuan ku cuma satu, ticket! Setidaknya ide berjalan kaki ku sukses membuat kita ontime masuk theater. "Thanks me later!"

Ya, aku tau kita kelaparan setelah pulang agak malam dan berjalan kaki, tapi keputusan membeli popcorn big bucket mu jelas salah. Kau tidak menghabiskannya, bahkan tidak sampai setengahnya. Kau meninggalkannya. Yang benar tentangmu hanyalah film itu, tak ada yang tak tertawa dan tak ada yang menyukainya. Film animasi itu sesuai dengan rating dan popularitas "lucu" nya. Thank You! Durasi film nya membuat kita keluar tepat disaat semua tenant restoran closing last order nya. kau bercerita tentang temanmu dirumah yang mirip dengan karakter tokoh film tadi, big size dan lucu. Sedangkan aku masih memutar otak mencari cafe atau resto yang sekelas dengan mu dan dimana.  Tapi heeyy,,,Christmas season membuat dekorasi mall ini terlihat lucu dengan dominasi teddy bear dimana-mana. Camera on! Aku mengeluarkan mirorless ku dan langsung "selfie" potrait didepan big teddy. Aku mau semua di capture dengan baik, aku meminta security mengambil foto kita didepan rumah teddy bear.

Aku rasa ide berjalan kaki malam itu totally membuat kita mengenal lebih jauh lagi, sampai hari ini. Dan hey,sepertinya barista menambahkan bahan baku lain yang aneh pada kopiku malam ini, bahan baku yang mambuatku memiliki kekuatan lebih saat ini. Kekuatan untuk melihat matamu lebih dalam  saat diam. Aku menikmatinya. Matamu memang menghilang saat tertawa, tetapi sebenarnya mata mu besar saat diam. Kau persis mencerminkan keseimbangan seorang manusia, diam mu sama banyaknya dengan tertawa mu.  Kali ini aku benar-benar kehilangan cerita, ini pasti karena otak ku terlalu banyak diisi topic-topik gak penting yang biasanya kuceritakan padamu.


Seperti pagi itu saat kita datang ke sebuah seminar tentang cara menanggulangi bencana alam.  Aku mulai basa-basi bertanya tentang aktivitas weekend mu dan menceritakan weekend ku. Sepanjang seminar aku menceritakan tentang hal-hal yang sama. Topik seminar itu terlalu berat untuk ku cerna, entah bagaimana dengan mu. Dan aku mulai berbasa-basi seperti biasa. Aku mulai bercerita dan bertanya hal-hal gak penting lagi denganmu. Bertanya apa mimpi-mimpi kecil mu, cita-cita mu saat ini, dan apakah orang-orang dinegara mu sudah terbiasa menghadapi bencana. Percayalah aku hanya basa-basi selama ini. Aku pernah bertanya kau punya berapa saudara, dan aku lupa jawabannya. Atau nama kampung halamanmu, jelas aku tak peduli kau berasal dari mana. Itu semua karena aku terlalu benci menjadi “awkward” disamping sesorang. Dan Hey! aku baru tau selama satu tahun kau tinggal di kota ini, kau hanya  sekali pergi menonton dibioskop. Haha, Lucu juga kau ini. Yes, understood, semua waktumu jelas kau habiskan untuk business trip, control penjualan disetiap cabang dan visit store. Baiklah, sebagai “ice breaker”, aku pun basa-basi mengajakmu ke bisokop. Kasian kau. Hahaha.  

Aku tau meja dipojok coffee shop itu terlalu besar untuk kita berdua. Aku menikmati semua kata-katamu. Mengingat setiap detailnya, dan bercerita tentang “Kura-kura”. Lupakan tentang kura-kura. Yang terpenting sekarang bukan apa yang aku ceritakan lagi, tapi aku hanya ingin mendengarmu. Aku berjanji akan mengingatnya, tidak lagi berpura-pura tidak peduli atau basa-basi seperti biasa.

 I choose to be the one who leaves rather than be leaved. Because sometime it is hurt to be leaved by someone. It was like you will have another live there, yet I just hung up alone here. Aku harus memberikam "stupid box" yang sudah kusiapkan sebagai farewell gift mu.

..............Continue..............

 Baiklah, aku mulai menyesali sikap basa-basi ku selama ini. Seharusnya aku tidak pura-pura bertanya berapa jumlah saudara kandung mu, bagaimana hubungan mu dengan orang tuamu, asal sekolahmu dan apapun tentang itu.

Kamis, 13 November 2014

Banyak Sekali Yang Terlewatkan.


Banyak sekali yang terlewatkan.
 
Saya berhenti menulis sejak satu tahun lalu. Mengingat banyaknya kegiatan yang saya lakukan setahun belakangan ini, entah karena terlalu (sok) sibuknya, atau karena niat menulis yang hilang. Tapi sekali lagi, harus ditampar dengan hal kecil untuk melakukan hal-hal besar lainnya. Saya selalu kagum untuk semua orang yang dengan mudah nya menulis. Karena memang bukan hanya menulis, kalian dengan mudahnya menuangkan apa yang ada di sini (tunjuk kepala bagian belakang, otak) menjadi ringkasan sudut pandang yang dapat dinikmati oleh orang lain,pembaca.  Itu yang susah sebenarnya buat saya, menuangkan ide dan kembali mencari niat menulis yang hilang itu. Banyak dari para penerima beasiswa juga awalnya dari menulis. Mereka dengan mudahnya menyelesaikan motivation letter tanpa harus menunggu mood bagus dan menunda seperti saya.
Aahh,,Seharusnya saat ini saya sudah membara menyelesaikan banyak tulisan hasil dr banyaknya kegiatan, memenuhi blog dengan rentetan cerita tentang travelling, hiking, diving, social activities and else. Tapi… yasudah lah, intinya semakin sy menunda, semakin banyak cerita yg terlewatkan.
Kalau gak keberatan, kalian bisa ingatkan saya untuk menulis, atau menagih tulisan saya setiap hari, mulai dari hari ini.
Semoga tidak ada lagi yang terlewatkan.
 
Cheers, J
Anak Ayam.